Warfarin adalah

Warfarin merupakan senyawa antagonis vitamin K dari kelas enantiomer yang pertama kali dipasarkan sebagai materi terapi anti-koagulan. dengan mekanisme kerja menghipnotis sintesis faktor koagulasi yang tergantung vitamin K(II, VII, IX, X) dihati.

Warfarin merupakan senyawa antagonis vitamin K dari kelas enantiomer yang pertama kali dip Warfarin
Struktur kimia Warfarin

Indikasi:
Profilaksis dan terapi thrombosisvena, embolism pulmonari dan disorder thromboembolik, atrialfibrilasi dengan risiko embolism dan sebagai pemanis pada profilaksis embolism sistemik sesudah infarkmiokardiak.

Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap warfarin atau komponen lain dalam sediaan, hemoragi, hemofilia, trombositopeniapurpura, leukemia, operasi mata atau saraf, anestesiabloklumbar regional atau operasi besar lainnya, pasien yang mengalami pendarahan pada akses pencernaan, pernapasan, aborsi, anuerism, defisiensi asam askorbat, riwayat pendarahan diastesis, prostatektomi, poliartritis, pendarahan pada kolon, hemoragiserebrovaskular, eklampsia dan pre-eklampsia, hipertensi tidak terkontrol, penyakit hepatik parah, perikarditis atau efusiperikardial, endokarditis basil subakut, visceralcarcinoma, sesudah punkturspinal dan diagnostik lain atau mekanisme terapi untuk pendarahan signifikan, riwayat nekrosis yang diinduksi warfarin, pasien tidak patuh, kehamilan

Dosis dan Cara Pemakaian:

  • Oral dan anak: 0.05-0.34 mg/kg/hari, bayi <12 bulan memerlukan takaran sama dengan atau mendekati rentang ini, antikoagulasi konsisten akan sulit untuk dipertahankan pada anak <5 tahun.
  • Dewasa: takaran awal tergantung individu (pertimbangkan pasien dengan gangguan fungsi hati, fungsi kardiak, status nutrisi, terapi lanjutan, risiko pendarahan).
  • Awali dengan takaran 5-10mg/hari, takaran pemeliharaan biasanya 2-10 mg setiap hari (mungkin diharapkan takaran loading dan pemeliharaan diluar fatwa ini).
  • Dosis awal yang lebih rendah diharapkan pasien dengan gangguan fungsi hati, gizi buruk, gagal jantung kongestif, pasien lanjut usia, risiko pendarahan dan pasien yang lemah kondisinya.
  • Dosis awal yang lebih tinggi sanggup diberikan untuk pasien tertentu (misalnya pasien yang mendapatkan distributor penginduksi enzim).

Efek Samping:
Antikoagulan, pendarahan, vasculitis, edema, syokhemoragi, demam, lethargi, malaise, asthenia, nyeri, sakit kepala, pusing, stroke, rash, dermatitis, urtikaria, pruritus, alopesia, anoreksia, mual, muntah, kram perut, sakit abdominal, diare, flatulens, pendarahan intestinal, gangguan rasa, ulkusmulut, hematuria, hemoragi, leukopenia, daerah pendarahan yang tidak diketahui yang sanggup diatasi dengan antikoagulasi, hematomaretroperitonial, agranulositosis, luka pada hati, jaundice, peningkatan transaminase, parethesia, osteoporosis, epitaksis, hipersensitifitas dan reaksi alergi.

Peringatan dan atau Perhatian: ( – )

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Tablet 5 mg

Penyimpanan dan Stabilitas:
Simpan pada daerah kedap udara, terhindar dari sinar matahari.
Setelah direkonstitusi dengan 2.7 mL air steril, sediaan stabil selama 4 jam pada suhu kamar

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.