Tetrasiklin adalah

Tetrasiklin menghambat sintesis protein dengan berikatan pada subunit ribosom 30S dan 50S bakteri; juga sanggup mengubah membran sitoplasma.

Tetrasiklin menghambat sintesis protein dengan berikatan pada subunit ribosom  Tetrasiklin
struktur kimia Tetrasiklin

Indikasi Tetrasiklin:

  1. Tetrasiklin dipakai untuk kuman penginfeksi gram nyata maupun gram negatif yang sensitif; sanggup dipakai untuk jerawat yang disebabkan oleh mikoplasma, klamidia, dan riketsia
  2. untuk pengobatan ackne, bronkhitis kronis eksaserbasi, dan pengobatan gonore dan sipilis bagi pasien yang alergi tehadap penicillin
  3. digunakan juga sebagai kombinasi pada pengobatan eradikasi H. pylori untuk mengurangi risiko kambuhnya tukak duodenum.

Kontra Indikasi:

  1. Hipersensitif terhadap tetrasiklin atau terhadap komposisi formulasi yang terdapat dalam obat
  2. jangan diberikan pada anak < 8 tahun
  3. wanita hamil.

Dosis dan Cara Pemakaian:

  • Anak-anak >8 tahun: 25-50 mg/kg/hari dalam takaran terbagi setiap 8 jam.
  • Dewasa: 250-500 mg/dosis setiap 6 jam.
  • Jerawat: 250-500 mg, sehari 2 kali.
  • Bronkhitis kronis eksaserbasi akut: 500 mg sehari 4 kali
  • Erlichiosis: 500 mg sehari 4 kali selama 7-14 hari
  • Ulkus peptikus; eradikasi Helicobacter pylori: 500 mg 2-4 kali/hari bergantung pada regimen; diperlukan kombinasi dengan paling tidak satu antibiotik lain dan obat penekan asam ( H2 bloker yang digunakan).

Penyesuaian takaran pada gagal ginjal:

  • ClCr 50-80 mL/menit: diberikan setiap 8-12 jam.
  • ClCr 10-50 mL/menit: setiap 12-24 jam.
  • ClCr <10 mL/menit: diberikan setiap 24 jam.
  • Penyesuaian takaran pada kerusakan hati: hindarkan penggunaan obat atau dengan takaran maksimal 1 g/hari.

Cara pemberian:

  • Digunakan pada keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan, atau 2 jam sesudah makan) meningkatkan jumlah absorbsi obat.
  • Digunakan 1-2 jam sebelum atau 4 jam sesudah penggunaan antasida, lantaran magnesium dan aluminium akan membentuk khelat dengan tetrasiklin yang akan menurunkan jumlah absobsi obat.

Efek Samping Tetrasiklin:

  1. Cardiovascular: Pericarditis.
  2. SSP: Meningkatnya tekanan intrakranial, pseudotumor serebri, parestesia.
  3. Dermatologi: Photosensitivity; pruritos, pigmentasi pada kulit.
  4. Endokrin dan metabolik: Sindrom diabetes insupindus.
  5. Gastrointestinal: Pelunturan warna gigi dan email (anak-anak), mual,diare,muntah, esophagitis, anorexia, cram lambung, pseudo-membranous collitis, staphylococcal enterocolitis, pancreatitis.
  6. Haematologi: Tromboflebitis
  7. Hepatic: Hepatotoksis.
  8. Renal: ARF; azotemia; gagal ginjal.
  9. Lain-lain: Suprainfeksi, anaphilaksis, reaksi hipersensitif, suprainfeksi kandida.

Peringatan dan atau Perhatian:

  1. Penggunaan tetrasiklin selama proses pembentukan gigi kemungkinan akan menimbulkan pelunturan warna gigi dan lapisan emailnya, hipoplasia dan keterlambatan perkembangan otot skelet dan pertumbuhan tulang, keadaan ini akan berisiko lebih besar pada pasien <4 tahun dan mendapatkan takaran tinggi tetrasiklin.
  2. Penggunaan dengan hati-hati pada pasien gangguan hati dan ginjal.
  3. Penyesuaian takaran untuk pasien gagal ginjal dan diketahui adanya peningkatan BUN jawaban penggunaan antibiotik lainya.
  4. Faktor risiko Kehamilan D
  5. Tetrasiklin bisa menembus plasenta dan menembus kedalam sirkulasi sistemik janin
  6. dapat menimbulkan pewarnaan yang permanen pada gigi bayi bila dipakai pada fase pertengahan kehamilan.
  7. Tetrasiklin sanggup masuk ke ASi, tidak dianjurkan pada ibu menusui.
  8. Berpengaruh pada hasil pengukuran: fungsi hepar, renal, CBC

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
1. Kapsul sebagai klorida: 250 mg, 500mg
2. suspensi oral sebagai HCl: 125 mg/5 ml (480 ml)
3. tablet sebagai HCl: 250 mg, 500 mg

Penyimpanan dan Stabilitas:
Simpan sediaan oral tetrasiklin dalam suhu kamar dan terhindar dari cahaya.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.