Tanaman Obat

Tanaman obat ialah tumbuhan yang mempunyai khasiat obat dan dipakai sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Pengertian berguna obat ialah mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau bila tidak mengandung zat aktif tertentu tapi mengandung imbas resultan/sinergi dari banyak sekali zat yang berfungsi mengobati (Flora, 2008).

Tanaman obat tidak berarti flora yang ditanam sebagai tumbuhan obat. Tanaman obat yang tergolong rempah-rempah atau bumbu dapur, tumbuhan pagar, tumbuhan buah, tumbuhan sayur atau bahkan tumbuhan liar juga sanggup dipakai sebagai tumbuhan yang di manfaatkan untuk mengobati banyak sekali macam penyakit. Penemuan-penemuan kedokteran modern yang berkembang pesat mengakibatkan pengobatan tradisional terlihat ketinggalan zaman. Banyak obat-obatan modern yang terbuat dari tumbuhan obat, hanya saja peracikannya dilakukan secara klinis laboratories sehingga terkesan modern. Penemuan kedokteran modern juga mendukung penggunaan obat-obatan tradisional (Hariana, 2008).

Baca Juga: Pengertian Simplisia

Tanaman obat atau biofarmaka didefinisikan sebagai jenis tumbuhan yang sebagian, seluruh tumbuhan dan atau eksudat tumbuhan tersebut dipakai sebagai obat, materi atau ramuan obat-obatan. Eksudat tumbuhan ialah isi sel yang secara impulsif keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tumbuhan sanggup berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya (Herdiani, 2012).
Pengunaan Tanaman Obat
Dalam penggunaan tumbuhan obat sebagai obat sanggup dengan cara diminum, ditempel, untuk mencuci/mandi, dihirup sehingga penggunaannya sanggup memenuhi konsep kerja reseptor sel dalam mendapatkan senyawa kimia atau rangsangan. Hingga sekarang, pengobatan tradisional masih diakui keberadaannya dikalangan masyarakat luas. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membina dan mengembangkannya. Salah satu pengobatan tradisional yang sedang ekspresi dominan dikala ini ialah ramuan tumbuhan obat secara empirik, ramuan tradisional dengan tumbuhan obat paling banyak dipakai oleh masyarakat. Penggunaan ramuan tradisonal tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi juga untuk menjaga dan memulihkan kesehatan (Stepanus, 2011).

Obat tradisional telah berada dalam masyarakat dan dipakai secara empiris sanggup memperlihatkan manfaat dalam meningkatkan kesehatan badan dan pengobatan banyak sekali penyakit. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan obat tradisional sebagai jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Obat tradisional ialah ramuan dari banyak sekali macam jenis dari kepingan tumbuhan yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan banyak sekali macam penyakit. Obat tradisional di Indonesia dikenal dengan nama jamu. Obat tradsional sendiri masih mempunyai berupa senyawa. Sehingga khasiat obat tradisional mungkin terjadi dengan adanya interaksi antar senyawa yang mempunyai efek yang lebih berpengaruh (Nurhayati, 2008).

Pengetahuan wacana tumbuhan obat dari luar ibarat india, China terdapat kemiripan dikarenakan letak geografis Nusantara di antara dua sentra kebudayan yaitu China dan India. Hubungan dagang dan penyebaran agama menjadi media penyaluran pengetahuan wacana tumbuhan obat. Sejak zaman kerajaan di Nusantara dari mulai Kutai Kartanegara, Sriwijaya, Majapahit hingga pada Kesultanan Mataram dan zaman VOC obat yang dipakai nenek moyang bangsa kita ialah tumbuhan obat. Pelajaran wacana obat modern di Indonesia berawal ketika didirikan Sekolah Dokter Djawa (STOVIA) tahun 1904 di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter dilingkungan mereka, pada zaman itu dimulai pelajaran wacana obat-obatan modern dengan pendekatan kimiawi, sehingga pada dikala itu pengobatan tradisionil mulai sedikit terlupakan (Flora. 2008)
Keunggulan obat materi alam (Tanaman Obat) antara lain:

  1. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila dipakai secara benar dan tepat, baik sempurna takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tumbuhan obat untuk indikasi tertentu.
  2. Adanya imbas komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat/komponen bioaktif tumbuhan obat. Dalam suatu ramuan obat tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis tumbuhan obat yang mempunyai imbas saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibentuk setepat mungkin biar tidak menimbulkan imbas kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu imbas yang dikehendaki.
  3. Pada satu tumbuhan sanggup mempunyai lebih dari satu imbas farmakologi. Zat aktif pada tumbuhan obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tumbuhan sanggup menghasilkan beberapa metabolit sekunder, sehingga memungkinkan tumbuhan tersebut mempunyai lebih dari satu imbas farmakologi.
  4. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeratif. Perubahaan contoh konsumsi menimbulkan gangguan metabolisme dan faal badan sejalan dengan proses degenerasi. Yang termasuk penyakit metabolik antara lain diabetes (kencing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, watu ginjal, dan hepatitis. Sedangkan yang termasuk penyakit degeneratif antara lain rematik (radang persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambein/wasir) dan pikun (lost of memory). Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut diharapkan waktu usang sehingga penggunaan obat alam lebih sempurna alasannya imbas sampingnya relatif lebih kecil.

Baca: Standarisasi Ekstrak Herbal

Di samping keunggulannya, obat materi alam juga mempunyai beberapa kelemahan yang juga merupakan hambatan dalam pengembangan obat tradisional antara lain: imbas farmakologisnya lemah, materi baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan gampang terkotori banyak sekali mikroorganisme.

Upaya-upaya pengembangan obat tradisional sanggup ditempuh dengan banyak sekali cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis, yaitu kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Untuk mendapatkan produk fitofarmaka harus melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga sanggup menjawab dan mengatasi kelemahan tersebut.
Bagian-Bagian Tanaman Obat yang di Manfaatkan:
Tanaman obat pada umumnya mempunyai bagian-bagian tertentu yang dipakai sebagai obat, yaitu :
1. Akar (radix) contohnya pacar air dan cempaka.
2. Rimpang (rhizome) contohnya kunyit, jahe, temulawak
3. Umbi (tuber) contohnya bawang merah, bawang putih, teki
4. Bunga (flos) contohnya jagung, piretri dan cengkih
5. Buah (fruktus) contohnya delima, kapulaga dan mahkota dewa
6. Biji (semen) contohnya saga, pinang, jamblang dan pala
7. Kayu (lignum) contohnya secang, bidara bahari dan cendana jenggi
8. Kulit kayu (cortex) contohnya pule, kayu manis dan pulosari
9. Batang (cauli) contohnya kayu putih, turi, brotowali
10. Daun (folia) contohnya saga, landep, miana, ketepeng, pegagan dan sembung
11. Seluruh tumbuhan (herba) contohnya sambiloto, patikan kebo dan meniran

Baca: Cara pembuatan atau Pengolahan Simplisia

Salah satu prinsip kerja obat tradisional ialah proses (reaksinya) yang lambat (namun bersifat konstruktif), tidak ibarat obat kimia yang sanggup pribadi bereaksi (tapi bersifat destruktif/merusak). Hal ini alasannya obat tradisional bukan senyawa aktif. Obat tradisional berasal dari kepingan tumbuhan obat yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan. Jika ingin mendapatkan senyawa yang sanggup dipakai secara aman, tumbuhan obat harus melalui proses ekstraksi, kemudian dipisahkan, dimurnikan secara fisik dan kimiawi (di-fraksinasi). Tentu saja proses tersebut membutuhkan materi baku dalam jumlah yang sangat banyak (Herdiani, 2012).