Spironolakton adalah

Spironolakton berkompetisi dengan aldosteron pada reseptor di tubulus ginjal distal, meningkatkan natrium klorida dan ekskresi air selama konversi ion kalium dan hidrogen, juga sanggup memblok imbas aldosteron pada otot polos arteriolar. Spironolakton digunakan bersama diuretik lain untuk mengurangi ekskresi kalium disamping memperbesar diuresis.

Spironolakton berkompetisi dengan aldosteron pada reseptor di tubulus ginjal distal Spironolakton
struktur kimia Spironolakton

Indikasi:
Edema yang bekerjasama dengan ekskresi aldosteron berlebihan, hipertensi, gagal jantung kongestif, hiperaldosteronism primer, hipokalemia, penanganan hipersutism, sirosis hati yang diikuti dengan edema atau asites.

Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap spironolakton atau komponen lain dalam sediaan, anure, insufisiensi ginjal akut, gangguan fungsi ekskresi ginjal yang signifikan, hiperkalemia, kehamilan (hipertensi yang diinduksi kehamilan)

Dosis dan Cara Pemakaian:
Untuk menghilangkan penundaan munculnya efek, sanggup diberikan 2-3 kali takaran harian lazim pada terapi hari pertama.
Pemberian Oral:
Anak-anak:

  • 1-17 tahun: diuretik, hipertensi: takaran awal: 1 mg/kg/hari dalam takaran terbagi setiap 12-24 jam, takaran maksimum: 3.3 mg/kg/hari.
  • Hiperaldosteronism primer: 125-375 mg/m2/hari dalam takaran terbagi.

Dewasa:

  • Edema, hipokalemia: 25-200 mg/hari dalam 1-2 takaran terbagi.
  • Hipertensi: 25-50 mg/hari dalam 1-2 takaran terbagi.
  • Aldosteronism primer: 100-400 mg/hari dalam 1-2 takaran terbagi.
  • Jerawat (pada wanita): 25-2200 mg sekali sehari.
  • Hirsutism: 50-200 mg/hari dalam 1-2 takaran terbagi
  • Gagal jantung kongestif parah (dengan inhibitor ACE dan diuretik loop + digoksin): 12.5-25 mg/hari, takaran harian maksimum: 50 mg (dosis lebih tinggi umum digunakan). Jika kalium > 5.4 mEq/L, takaran diturunkan.
  • Pasien lanjut usia: takaran awal: 25-50 mg/hari dalam 1-2 takaran terbagi, ditingkatkan menjadi 25-50 mg setiap 5 hari, sesuai kebutuhan.

Catatan: Interval takaran untuk kerusakan ginjal:
Clcr 10-50 mL/menit: santunan hanya setiap 12-24 jam.
Clcr <10 mL/menit: hindari penggunaan spironolakton.

Efek Samping:
Edema, gangguan SSP menyerupai mengantuk, lethargi, sakit kepala, kebingungan, demam, ataksia, makulopopular, erupsi eritematosus, urtikaria, hiesutism, eosinofilia, ginekomastia, sakit payudara, hiperkalemia serius, hiponatremia, dehidrasi, metabolik asidosis, impotensi, haid tidak teratur, amenorea, pendarahan sehabis postmenopouse, anoreksia, mual, muntah, kram perut, diare, pendarahan lambung, ulserasi, gastritis, muntah, agranulositosis, toksisitas hepatoselular peningkatan konsentrasi BUN.

Peringatan dan atau Perhatian:

  1. Hindari penggunaan suplemen, garam mengandung kalium, makanan yang mengandung kalium, atau obat-obat lain yang mengandung kalium.
  2. Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit.
  3. Ginecomastia bekerjasama dengan takaran dan durasi terapi.
  4. Terapi dengan diuretik harus disertai perhatian untuk pasien yang mengalami disfungsi hati parah, perubahan elektrolit dan cairan sanggup memperparah ensefalopati.
  5. Hentikan penggunaan obat sebelum katerisasi vena adrenal.
  6. Saat penilaian terhadap pasien gagal jantung yang memakai terapi spironolakton, kadar kreatinin harus < 2.5 mg/dL pada laki-laki atau < 2 mg/mL pada perempuan dan kalium < 5 mEq/L

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
Tablet: 25 mg, 100 mg

Penyimpanan dan Stabilitas:
Simpan pada temperatur < 25 °C.
Hindari dari cahaya.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.