Siprofloksasin adalah

Siprofloksasin menghambat DNA-girase pada organisme yang sensitif, menghambat relaksasi superkoloid DNA dan memicu kerusakan untai ganda DNA.

 menghambat relaksasi superkoloid DNA dan memicu kerusakan untai ganda DNA Siprofloksasin
struktur kimia Siprofloksasin

Indikasi:

  1. Anak anak: Infeksi susukan urin dan pyelofritis yang disebabkan oleh E.coli.
  2. catatan: meskipun demikian, siprofloksasin bukan merupakan obat pilihan pertama.
  3. Anak anak dan dewasa: untuk menurunkan angka kejadian atau progress penyakit terkait dengan baccilus anhraticus.
  4. Pada abses mata; dipakai untuk mengobati abses pada okular (corneal ulcer, conjungtivitis) atau basil sejenis.
  5. Dewasa: untuk pengobatan abses yag disebabkan bakteri: abses susukan urin; cistitis akut tanpa komplikasi pada wanita; prostatitis basil kronik; abses susukan nafas bawah (termasuk eksaserbasi akut dan bronchitis kronik); sinusistis akut; abses kulit; tulang dan persendian; abses intraabdominal komplek; diare lantaran infeksi; demam tyfoid lantaran Salmonella typhi; pneumonia nosokomial, terapi empiris febrile neutrophenic (kombinasi dengan piperacillin).

Kontra Indikasi:
Terhadap pasien yang mengalami hipersensitifitas terhadap golongan siprofloksasin dan komponen lain dalam sediaan.

Dosis dan Cara Pemakaian:
DOSIS ANAK-ANAK:
Oral:

  • Infeksi susukan urin atau pyelofritis: anak 1-17 tahun: 20-30 mg/kg/hari terbagi dalam 2 takaran terpisah (setiap 12 jam) untuk 10-21 hari. Maksimal 1.5 g/hari.
  • Cistitis fibrosis: anak 5-17 tahun; 40 mg/kg/hari dalam takaran terbagi setiap 12 jam, pemberian selama 1 ahad
  • Injeksi : abses susukan urin komplikasi pada anak 5-17 tahun: 6-10 mg/kg setiap 8 jam untuk 10-21 hari (maksimum 400 mg/dosis)
  • Cistitis fibrosis: anak 5-17 tahun; 30 mg/kg/hari dalam takaran terbagi setiap 8 jam untuk satu minggu.

DOSIS DEWASA:
Oral:

  • Infeksi susukan urin:Infeksi susukan urin akut tanpa komplikasi: 250 mg setiap 12 jam selama 3 hari.
  • Infeksi susukan urin akut dan pyelonefritis tanpa komplikasi: sediaan lepas lambat 1000 mg setiap 24 jam selama 7-14 hari.
  • Cistitis akut tanpa komplikasi sediaan lepas lambat 500 mg setiap 24 jam selama 3 hari.
  • Infeksi susukan urin sedang: 250 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari.
  • Infeksi susukan urin berat: 500 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari.
  • infeksi susukan nafas bawah, dan abses pada kulit: 500-750 mg dua kali sehari untuk 7-14 hari, tergantung juga dengan kegawatan dan keparahan infeksinya.
  • Infeksi pada tulang dan persendian: 500-750 mg dua kali sehari 4-6 minggu, tergantung kegawatan dan kepekaan dari basil penginfeksinya.
  • Diare lantaran infeksi: 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari.
  • Infeksi intraabdominal (kombinasi dengan metronidazol): 500 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari.
  • Demam tyfoid: 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari.
  • Infeksi gonore uretral/servikal: 250-500 mg takaran tunggal.
  • Infeksi gonore menyebar: 500 mg dua kali sehari selama pengobatan 7 hari penuh (pengobatan awal dengan seftriakson 1 g IM/IV perhari untuk 24-48 jam sesudah ditemukan kasus tersebut).
  • Sinusitis (akut): 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari.
  • Prostatitis kronik lantaran bakteri: 500 mg setiap 12 jam selama 28 hari.

Injeksi:

  • Infeksi tulang dan persendian: abses ringan dan sedang: 400 mg setiap 12 jam untuk 4-6 minggu;
  • infeksi berat dan komplikasi: 400 mg setiap 8 jam selama 4-6 minggu.
  • Infeksi susukan napas bawah dan abses pada kulit: ringan sampai sedang: 400 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari;
  • infeksi gawat dan komplikasi: 400 mg setiap setiap 8 jam selama 4-6 minggu.
  • Pneumonia nosokomial: (ringan, sedang dan berat): 400 mg setiap 8 jam selama 10-14 hari.
  • Prostatitis (kronik, lantaran bakteri): 400 mg setiap 12 jam selama 28 hari.
  • Sinusitis (akut): 400 mg setiap 12 jam selama 10 hari.
  • Infeksi susukan urin: ringan sampai sedang 200 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari;
  • akut dan komplikasi: 400 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari.
  • Vebrile neutropeni (kombinasi dengan piperacilin) 400 mg setiap setiap 8 jam selama 7-14 hari.
  • Intraabdominal infection (kombinasi dengan metronidazole): 400 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari.

Penyesuaian dosis:
ClCr 30-50 mL/menit: oral 250-500 mg setiap 12 jam.
ClCr <30 mL/menit (infeksi susukan urin akutI): oral 500 mg setiap 24 jam.
ClCr 5-29 mL/menit: oral 250-500 mg setiap 18 jam; i.v. 200-400 mg setiap 18-24 jam.

Efek Samping:

  1. SSP: Kejadian neurologi (gangguan tidur, pusing dan cemas), demam, sakit kepala (pemberian i.v); gelisah (pemberian i.v).
  2. Dermatologi: Ruam kulit.
  3. Gastrointestinal: Mual, diare, muntah, nyeri lambung, gangguan pencernaan.
  4. Hepatik: Peningkatan SGOT/SGPT.
  5. Lokal: Reaksi pada kawasan injeksi (pemberian i.v).
  6. Saluran pernapasan: Radang susukan pernapasan (rhinitis).
  7. Abnormal, ARF, agitasi, agranulositosis, albuminuria, reaksi alergi, anafilaksis, anemia, angina pektoris, angioedema, anorexia, anosmia, ataksia, atrial flutter, depresi sumsum tulang, sakit pada dada, bronkhospasmus, kandidiasis, kandiduria, gagal jantung, trombosis serebral, rasa dingin, jaundice kolestatik, kromatopsia, konstipasi, kristaluria, klinduria, delirium, depresi, rasa takut, rasa malas, dispepsia (dewasa), disfagia, dyspnea, edema, eosinofili, eritema multiform, eritema nosodum, dermatitis eksfoliatif, demam, fixed eruptions,flatulen, perdarahan lambung, halusinasi, sakit kepala, hematuria, anemia hemolitik, kegagalan fungsi hati, nekrosis hati, hiperglisemia, hiperpigmentasi, hipertensi, hipotensi,hipertonia, insomnia, interstisial nephritis, perforasi intestinal, iritabilitas, jaundice, nyeri persendian, edema tenggorokan, sensitif terhadap cahaya terang,limfadenopati, rasa malas, reaksi manik, methemoglobinemia, MI, migrain, moniliasis,
  8. myalgia, myastenia gravis, myoclonus, nefritis, nystagmus, hipotensi ortostatik, palpitasi, pankreatitis, pansitopenia, paranoia, parestesia, neuropati perifer, petenchia, perpanjangan waktu PT/INR, pseudomembranous colitis, psikosis, edema paru, renal calculi, kejang; peningkatan serum kolesterol dan trigliserida; sindrom stevens-johnson; takikardi, hilang rasa, kerusakan tendon, tendonitis, tromboflebitis, tinitus, toxic epidermal nekrolisis, tremor, perdarahan uretral, kandidiasis vagina, vaginitis, vasculitis, ektopi ventricular, gangguan visual, rasa lemas.

Peringatan dan atau Perhatian:

  1. Kemungkinan sanggup meningkatkan respon SSP, perlu monitoring terhadap pasien yang diketahui memiliki kelainan pada SSP.
  2. Pengobatan jangka panjang sanggup menimbulkan suprainfeksi.
  3. Kerusakan tendon, pernah dilaporkan saat siprofloksasin dipakai bersamaan dengan quinolon lainya.
  4. Reaksi hipersensitifitas gawat menyerupai anaphilasis pernah terjadi jikalau pengobatan dengan golongan quinolon lainya.
  5. faktor risiko C pada kehamilan.
  6. Tidak direkomendasikan pada anak dan ibu menyusui (terdistribusi ke ASI)

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:

  • Infus,
  • Injeksi,
  • Salep,
  • Tetes Mata,
  • Tablet,
  • Tablet Lepas Lambat

Penyimpanan dan Stabilitas:

  • Injeksi: sediaan infus disimpan pada suhu 5-25°C terlindung dari cahaya dan pembeku (freezer).
  • Sediaan vial disimpan dalam suhu 5-30°C terlindung dari cahaya dan pembeku (freezer), pengenceran 0.5-2 mL siprofloksasin sanggup bertahan selama 14 hari jikalau disimpan dalam suhu kamar.
  • Tetas mata: disimpan pada suhu 2-25°C, terlindung dari cahaya.
  • Mikrokapsules untuk Suspensi oral: disimpan pada suhu 25°C
  • hasil pengenceran yang mengikuti mekanisme dan tersimpan pada suhu dibawah 30°C dan terhindar dari pembeku, obat sanggup bertahan 14 hari.
  • Tablet: disimpan pada suhu 30°C; tablet lepas lambat 15-30°C.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.