Meropenem

Meropenem Menghambat acara basil dengan menghambat sintesis dinding sel gram-positif and gram-negatif. Meropenem ialah salah satu jenis antibiotik yang dipakai untuk mengobati banyak sekali jenis jerawat yang khusus disebabkan oleh bakteri. Obat ini sanggup dipakai untuk mengobati kondisi neutropenia febril, yaitu kondisi demam yang disertai dengan penurunan jumlah sel darah putih jenis netrofil.

Golongan: Antibiotik, Beta-Lactam, Carbapenem.

Indikasi:
Bacterial Meningitis, jerawat kulit dan/atau Jaringan Subkutan (Parah), Infeksi abdomen (Parah).

Kontra Indikasi:
Reaksi anafilaksis dari penggunaan antibiotik beta laktam, hipersensitif terhadap meropenem atau pada komponen lain produk atau obat lain pada kelas yang sama (seperti karbapenem).

Dosis dan Cara Pemakaian:
Dosis Dewasa:

  • Bakteremia terkait dengan rute intravaskular: (karena rentan basil gram negatif) 1 g IV setiap 8 jam.
  • Meningitis bakteri: 6 g/hari IV dibagi setiap 8 jam (pedoman dosis).
  • Infeksi kulit dan/atau subkutan jaringan, parah: 500 mg IV setiap 8 jam; meningkat menjadi 1 g IV setiap 8 jam untuk jerawat yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa; infus selama 15 hingga 30 menit atau mengelola IV injeksi bolus (5-20 mL) selama 3 hingga 5 menit.
  • Penyakit menular perut, parah: 1 g IV setiap 8 jam; infus selama 15 hingga 30 menit atau mengelola IV injeksi bolus (5-20 mL) selama 3 hingga 5 menit.
  • Nosokomial pneumonia: penyakit akhir-onset (5 hari atau lebih) atau diduga patogen resisten multi-obat, 1 g IV setiap 8 jam.

Dosis Anak:

  • Meningitis bakteri: (lebih renta dari 28 hari) 120 mg/kg/hari IV dibagi setiap 8 jam; pertimbangkan untuk menambahkan aminoglikosida untuk Pseudomonas aeruginosa (pedoman dosis).
  • Meningitis bakteri: (3 bulan atau lebih) infus 40 mg/kg IV setiap 8 jam; MAX 2 g IV setiap 8 jam (produsen dosis).
  • Infeksi kulit dan/atau jaringan subkutan, parah: (3 bulan atau lebih) 10 mg/kg IV setiap 8 jam; meningkat menjadi 20 mg/kg IV setiap 8 jam untuk jerawat yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa; MAX takaran 500 mg.

Dosis Penyesuaian:

  • gangguan ginjal, dewasa, CrCl lebih besar dari 50 mL/menit: tidak ada adaptasi takaran yang diperlukan.
  • gangguan ginjal, dewasa, CrCl lebih besar dari 25 hingga kurang dari 50 mL/menit: takaran peningkatan interval untuk setiap 12 jam.
  • gangguan ginjal, dewasa, CrCl 10 hingga 25 mL/menit: satu-setengah takaran yang dianjurkan tergantung pada jenis infeksi; meningkatkan interval proteksi takaran setiap 12 jam.
  • gangguan ginjal, dewasa, CrCl kurang dari 10 mL/menit: satu-setengah takaran yang dianjurkan tergantung pada jenis infeksi; meningkatkan interval proteksi takaran setiap 24 jam.
  • gangguan ginjal, pasien anak-anak: tidak ada pengalaman dengan gangguan ginjal.
  • hemodialisis: takaran aksesori berikut sesi hemodialisis dianjurkan hemofiltration/hemodiafiltration, sakit kritis: 1 g IV setiap 12 jam.

Efek Samping:

  1. Dermatologi: Inflamsi pada lokasi injeksi.
  2. Gastrointestinal: Konstipasi.
  3. Hematologi: Anemia.

Peringatan dan atau Perhatian:

  1. Diare terkait Clostridium difficile, meliputi diare ringan hingga colitis fatal, telah dilaporkan
  2. Jika telah diduga atau diketahui, hentikan administrasi terapi dan proteksi terapi yang sesuai harus dilakukan.
  3. Penggunaan bersamaan dengan probenesid, asam valproat, atau natrium divalproex tidak direkomendasikan.
  4. Pasien lanjut usia harus dimonitor dan dilakukan adaptasi dosis.
  5. Penggunaan pada pasien hipersensitivitas, meliputi reaksi anafilaksis terhadap penggunaan antibiotik beta-laktam (penisilin dan sefalosporin) harus diperhatikan, hentikan bila reaksi alergi terjadi.
  6. Kerusakan neuromotor
  7. sakit kepala, kejang atau paresthesias sanggup terjadi dan sanggup menjadikan gangguan motorik dan ditandai dengan mental alert.
  8. Penggunaan harus dengan perhatian pada pasien yang mendapatkan meropenem pada pasien rawat jalan.
  9. Gangguan ginjal (CrCl 50 mL/min atau kurang)
  10. harus dilakukan pengurangan dosis.
  11. Kejang atau reaksi tidak dikehendaki pada CNS lainnya pernah dilaporkan
  12. risiko meningkat pada pasien yang pernah mengalami gangguan CNS sebelumnya (cidera otak, atau riwayat kejang)
  13. Obat lain yang berpotensi mengakibatkan kejang, meningitis, dan/atau fungsi renal yang kurang baik
  14. gunakan takaran yang dianjurkan dan lanjutkan proteksi antikonvulsan sebelumnya
  15. penurunan takaran atau penghentian terapi dan antikonvulsan dibutuhkan kalau terjadi tremor focal, mioklonus, atau kejang.

Interaksi Dengan Obat Lain:

  1. Natrium Divalproat sistemik, menurunkan kadar asam valproat plasma dan menurunkan efek antikonvulsan. (Mayor)
  2. Probenesid, meningkatkan konsentrasi plasma meropenem. (Moderate)
  3. Vaksin Typhoid hidup, menurunkan respon imun terhadap vaksin Typhoid.

Bentuk dan Kekuatan Sediaan:
1. Injeksi 1 g

Penyimpanan dan Stabilitas:
Simpan dalam wadah kedap udara.

Pustaka:
-MIMS Indonesia Edisi 15 Tahun 2014.
-ISO Indonesia Volume 46 Tahun 2011-2012.