Mengenal Penyakit Buta Warna

Ngomong-omong wacana penyakit buta warna. Jaman sekolah di Jogja dulu ada sahabat kost asal Gunung Kidul yang buta warna. Namanya Marsudi, kuliahnya di IKIP Karangmalang. Dia suka dongeng kalau ketika SD sering diketawain teman-temannya alasannya ialah salah warna kalau ada pelajaran menggambar. Misalnya warna gunung kuning, sawahnya merah dll. Hm, ada-ada saja …

 Jaman sekolah di Jogja dulu ada sahabat kost asal Gunung Kidul yang buta warna Mengenal Penyakit Buta Warna

Mengenal penyakit buta warna

Orang disebut buta warna kalau orang ini tidak sanggup membedakan sebagian atau seluruh warna dasar (merah, biru dan kuning). Hampir semua orang yang buta warna hanya sanggup membedakan dua warna pelangi. Mereka tidak sanggup membedakan antara warna merah dengan hijau, atau warna merah dan hijau dengan kuning. Namun si buta warna sendiri tidak menyadari kalau dirinya buta warna.

Buta warna tentu saja sangat membahayakan. Contoh paling gampang kita lihat di jalanan. Kalau kita tak sanggup membedakan lampu kemudian lintas sedang merah atau hijau, kita akan membahayakan pemakai jalan yang lain.

Macam-macam buta warna

Ada empat macam buta warna :

#1. Protanopi : Buta warna penuh terhadap warna merah. Kalau hanya sebagian saja buta warnanya terhadap warna merah, maka disebut protanomali.

#2. Deuteranopi : Buta lengkap terhadap warna hijau. Kalau hanya sebagian disebut deuteranomali.

#3. Tritanopi : Buta lengkap terhadap warna biru. Kalau buta sebagian terhadap warna biru disebut tritanomali.

#4. Akromatiopsi : ialah buta lengkap terhadap semua warna. Kalau orang menderita penyakit ini, maka yang tampak hanyalah wara hitam dan putih saja, atau kadang kala abu-abu.

Buta warna pada laki-laki dan wanita

Dikutip dari Ensiklo Bobo – Gramedia, tidaklah benar kalau dikatakan bahwa perempuan tidak sanggup terkena penyakit buta warna. Namun jumlahnya memang jauh lebih kecil jikalau dibandingkan degan pria.

Sebagai contoh. Diantara 100 pria, maka kemungkinan penderita penyakit buta warna ada 8 orang. Sedangkan diantara 200 wanita, yang kemungkinan menderita penyakit buta warna hanya satu orang.

Buta warna merupakan penyakit keturunan. Kalau seorang laki-laki yang buta warna menikah dengan seorang perempuan yang nenek moyangnya sama sekali tidak punya penyakit buta warna, maka anak-anaknya akan normal. Akan tetapi bawah umur perempuan hasil perkawinan ini “membawa” bibit penyakit buta warna. Dan kemungkinan akan menurunkan penyakit ini ke anak-anaknya.

Kalau seorang perempuan keturunan dari ayah yang buta warna menikah dengan laki-laki normal, maka anak laki-lakinya kemungkinan kena penyakit ini 50 %.