Makalah Gangguan Disosiatif: Gangguan Identitas, Amnesia Psikogenik, Dan Fugue Disosiatif

Makalah Gangguan Disosiatif lengkap, Merupakan Makalah kesehatan perihal gangguan disosiatif yang dirangkum dalam beberapa BAB, pada Bab 1 perihal pendahuluan dan latar belakang masalah, termasuk klarifikasi perihal pengertian disosiatif.
kemudian dilanjutkan pembahasan dalam BAB II dimana lebih fokus membahas perihal jenis-jenis Gangguan disosiatif,  Termasuk didalamnya yaitu : Gangguan Identitas Disosiatif yaitu seseorang yang mempunyai dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau lebih dikenal dengan Kepribadian Ganda. selain itu jenis yang lain ibarat Amnesia Psikogenik atau Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum, dan fugue Disosiatif baru kemudian dilanjutkan dengan Gangguan depersonalisasi. oke pribadi saja ini beliau makalah selengkapnya.
 perihal pendahuluan dan latar belakang persoalan Makalah Gangguan Disosiatif: Gangguan Identitas, Amnesia Psikogenik, dan Fugue Disosiatif

Makalah Gangguan Disosiatif

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan disosiatif adalah sekelompok gangguan yang ditandai oleh suatu kekacauan atau disosiasi dari fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran. Gangguan disosiatif merupakan suatu mekanisme pertahanan alam bawah sadar yang membantu seseorang melindungi aspek emosional dirinya dari mengenali dampak utuh beberapa insiden traumatik atau insiden yang menyeramkan dengan membiarkan pikirannya melupakan atau menjauhkan dirinya dari situasi atau memori yang menyakitkan. 
Disosiasi sanggup terjadi baik selama maupun setelah suatu peristiwa. Seperti pada mekanisme koping atau mekanisme pertolongan lainnya, disosiasi menjadi lebih gampang bila dilakukan berulang-ulang. Gangguan identitas disosiatif biasanya disebut sebagai kepribadian ganda. (Videbeck, 2001)
Gangguan Disosiatif mempunyai citra esensial berupa gangguan pada fungsi yang biasanya terintegrasi meliputi kesadaran, memori, identitas, atau persepsi lingkungan. Hal ini sering menghambat kemampuan individu untuk melaksanakan fungsi dalam kehidupan sehari-hari , mengganggu hubungan, dan menghambat kemampuan individu untuk melaksanakan koping terhadap realitas insiden yang traumatik. Identitas gangguan ini sangat bervariasi pada individu yang berbeda dan sanggup muncul tiba-tiba atau bertahap, bersifat sementara atau kronis (Videbeck, 2001)
Gejala utama disosiatif yaitu adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal di bawah kendali kesadaran antara :
  • Ingatan masa lalu
  • Kesadaran identitas dan pengindraan segera (awareness of identity and immediate sensation) dan,
  • Kontrol terhadap gerakan tubuh

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Jenis-jenis Gangguan Disosiatif

1. Gangguan Identitas Disosiatif

Gangguan Identitas Disosiatif Merupakan Suatu gangguan disosiatif dimana seseorang mempunyai dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau kepribadian pengganti (alter). Terdapat beberapa variasi dari kepribadian ganda, ibarat kepribadian tuan rumah atau utama mungkin tidak sadar akan identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan keberadaan si tuan rumah ada juga kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain. Terkadang dua kepribadian bersaing untuk mendapat kontrol terhadap orang tersebut ada juga satu kepribadian mayoritas (Dorahy, 2001). Ada juga yang menyebutnya dengan gangguan kepribadian multipel
Seseorang menunjukkan dua atau lebih identitas yang berbeda yang sering kali mengendalikan perilakunya. Gangguan ini disertai dengan ketidakmampuan untuk mengingat info personal yang penting (Videbeck, 2001)
Orang dengan kepribadian ganda seringkali sangat imajinatif pada masa kecilnya alasannya terbiasa dengan permainan “make-believe” (pura-pura atau bermain peran) mereka mungkin sudah mengadopsi identitas pengganti, terutama bila mereka berguru bagaimana menampilkan tugas kepribadian ganda. Dalam masalah kepribadain ganda masih terdapat kontroversi, alasannya selama tahun 1920-1970 dilaporkan hanya sedikit masalah di seluruh dunia perihal kepribadian ganda. Sejumlah andal percaya bahwa gangguan tersebut terlalu cepat didiagnosis pada orang-orang yang sangat gampang tersugesti yang bisa saja hanya mengikuti sugesti bahwa mereka mungkin mempunyai gangguan tersebut (APA, 2000). 
Sejumlah pakar terkenal, ibarat Psikolog Nicholas Spanos dan para psikolog lainnya telah menentang keberadaan gangguan identitas disosiatif. Bagi Spanos, kepribadian ganda bukanlah suatu gangguan tersendiri, namun suatu bentuk bermain tugas dimana individu pertama-tama mulai menganggap diri mereka mempunyai self ganda dan kemudian mulai bertindak dengan cara yang konsisten dengan konsepsi mereka mengenai gangguan tersebut. Pada karenanya permainan tugas mereka tertanam sangat dalam sehingga menjadi kenyataan bagi mereka.
Kepribadian ganda berbeda dengan skizofrenia. Dalam kepribadian ganda kepribadiannya ibarat terbagi kedalam dua atau lebih kepribadian namun masing-masing biasanya mengatakan fungsi yang lebih terintegrasi pada tingkat kognitif, afektif dan perilaku. Sedangkan skizofrenia yaitu kelainan mental yang ditandai oleh gangguan proses berpikir dan respon emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi pendengaran, paranoid atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan (Dorahy, 2001).
Identitas disosiatif merupakan kemunculan dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kejelasan atau ketidakjelasan dari kepribadian ini bagaimanapun bervariasi dari fungsi motivasi psikologis, level stress sekarang, budaya, konflik internal dan dinamic, serta naik turunnya emosi. Penekanan periode-periode dari gangguan identitas mungkin terjadi ketika tekanan psikososial parah dan/atau berkepanjangan. 
Dalam beberapa masalah “possession-form” dari gangguan identitas disosiatif,  dan dalam proporsi masalah “non-possession-form” yang kecil, perwujudan dari identitas alter akan sangat jelas. Kebanyakan individu dengan gangguan identitas disosiatif “non-possession-form”, tidak sejara terperinci mengatakan ketidaksinambungan  identitas diri dalam periode waktu yang lama; hanya sedikit pecahan menujukkan pada perhatian klinis dengan identitas alternatif yang terobservasi (Dorahy, 2001).
Gejala-gejala yang bekerjasama dengan diskontinuitas pengalaman yang sanggup besar lengan berkuasa pada banyak sekali aspek fungsi individu.  Individu dengan gangguan identitas disosiatif sanggup mengatakan perasaan yang tiba-tiba menjadi pengamat yang didepersonalisasi dari perkataan dan tindakan mereka, dimana mereka merasa tidak berdaya untuk menghentikannya (sense of self). Beberapa individu juga mengatakan persepsi bunyi (contoh : bunyi anak; tangisan ; dan bunyi roh). 
Pada beberapa kasus, suara-suara tersebut terasa banyak, membingungkan, pikiran bebas mengalir melalui individu yang tidak terkontrol. Emosi yang kuat, impuls, dan perkataan atau tindakan lain tiba-tiba muncul tanpa rasa kepemilikan diri atau tanpa kontrol. Emosi-emosi dan impuls ini seringkali ditunjukkan sebagai ego yang tidak kuat dan membingungkan. Sikap, penampilan dan kesukaan pribadi (makanan, aktivitas, pakaian) sanggup berubah secara tiba-tiba dan berubah lagi. Individu juga merasa tubuhnya berbeda (seperti badan anak-anak, jenis kelampin berbeda, besar dan berotot). 
Perubahan dalam perasan diri sendiri dan kehilangan distributor personal sanggup diikuti rasa bahwa sikap, emosi, dan sikap – dalam satu badan – bukan milik sendiri dan bukan dalam kontrol diri. Kebanyakan dari diskontinuitas yang tiba-tiba dalam berbicara, pengaruh, dan sikap sanggup diamati oleh keluarga, teman, dan terapis. Serangan non-epilepsi dan tanda-tanda konversi lainnya menonjol dalam beberapa klarifikasi dari identitas disosiatif, khususnya dalam setting non-Barat (Hibbert, dkk. 2009).
Individu yang mempunyai gangguan identitas disosiatif berbeda dalam kesadaran diri dan sikap terhadap amnesia. Hal ini umum pada individu tersebut untuk memperkecil tanda-tanda amnesia mereka. Beberapa sikap amnesia sanggup menjadi konkret pada lainnya – ibarat ketika orang-orang tidak mengingat kembali sesuatu yang mereka sadari dalam berbuat atau berkata, ketika mereka tidak bisa mengingat nama mereka, atau ketika mereka tidak mengenal pasangan, anak, atau sahabat dekatnya (Tomb, 2004)
Identitas “possession-form” dalam identitas disosiatif konkret sebagai sikap yang muncul ibarat ada “spirit”, kekuatan supernatural, atau ada orang lain di luar yang mengontrol. Contohnya, sikap individu sanggup memunculkan bahwa identitas mereka telah digantikan dengan “hantu” dari perempuan yang bunuh diri dalam komunitas mereka beberapa tahun yang lalu, berbicara dan berperilaku seolah-olah perempuan itu masih hidup. Atau, individu diambil alih oleh iblis, sebagai tuntutan dari individu untuk mendapat eksekusi atas sikap yang telah beliau lakukan di masa lalu. 
Bagaimanapun, pecahan utama dari keadaan kepemilikan di dunia ini normal, biasanya pecahan dari spiritual dan tidak termasuk dalam gangguan identitas disosiatif. Identitas yang meningkat selama gangguan disosiatif disorder “possession-form” muncul berulang tidak diinginkan dan terpaksa yang menjadikan distress atau kerusakan klinis yang signifikasn dan tidak sanggup diterima oleh budaya atau agama secara luas (Dorahy, 2001).

2. Amnesia disosiatif atau Amnesia Psikogenik

Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif. Kehilangan memori alasannya penyebab psikologik disebut amnesia disosiatif. Amnesia diambil dari kata Yunani a-, berarti “tanpa” dan mnasthai, berarti “untuk mengingat”. Mengingat kembali dalam amnesia psikogenik sanggup terjadi secara sedikit demi sedikit tapi sering muncul secara tiba-tiba atau impulsif (Maldonado, Butler, dan Speigel, 1998). 
Biasanya, terdapat kehilangan info bermuatan emosi yang anterograd secara tiba-tiba setelah suatu stres fisik atau psikososial. Gangguan ini lebih banyak dijumpai oada perempuan usia cukup umur atau usia 20-1n, atau laki-alki pada waktu perang. Pada ketika serangan, pasien tampak sangat bingung, tetapi sanggup pulih secara cepat, spontan, dan menyeluruh. Pada sebagian kasus, amnesia terjadi sebagian atau menyeluruh, dialami selama beberapa bulan atau tahun pada saat-saat kematian mereka. Hipnosis sanggup membantu untuk mengembalikan memorinya (Tomb, 2004).
Terdapat jenis-jenis dalam kerusakan ingatan yang diantaranya ialah ketidak mampuan untuk mengingat semua insiden yang bekerjasama dengan suatu insiden traumatik untuk suatu periode waktu spesifik setelah insiden tersebut (biasanya beberapa jam hingga beberapa hari) yang disebut dengan Amnesia lokal (Townsend, 1998). Sedangkan amnesia selektif, biasanya Beberapa individu sanggup mengingat beberapa, namun tidak semua, peristiwa-peristiwa dalam periode waktu terbatas. 
Jadi, individu sanggup mengingat pecahan dari insiden traumatik yang pernah terjadi, tetapi tidak pada pecahan lain. Beberapa individu melaporkan, dirinya menderita baik amnesia terlokalisasi dan amnesia selektif. Dengan kata lain yang sanggup diingat hanyalah insiden niscaya yang bekerjasama dengan insiden traumatik (Townsend, 1998).
Berbeda dengan amnesia selektif dan amnesia lokal, Amnesia menyeluruh  penghilangan memori keseluruhan dari sejarah kehidupan seseorang, dan hal tersebut jarang. Individu dengan amnesia keseluruhan sanggup melupakan identitas pribadi. Beberapa kehilangan pengetahuan sebelumnya perihal dunia (pengetahuan semantik) dan tidak sanggup melaksanakan keahlian-keahlian yang telah dipelajari (pengetahuan prosedural). 
Amnesia menyeluruh mempunyai onset akut; membingungkan, disorientasi, dan pengeluyuran yang tidak bertujuan dari individu dengan amnesia menyeluruh biasanya membawa mereka pada perhatian polisi atau pelayan psikiater darurat. Amnesia menyeluruh sanggup menjadi lebih umum di antara korban kekerasan seksual dan individu yang mempunyai pengalaman stress emosional yang ekstrim atau konflik (Townsend, 1998).
Dan yang terakhir ialah amnesia kontinu yakni ketidakmampuan mengingat kejadian-kejadian berikutnya hingga suatu waktu yang spesifik dan termasuk kejadian-kejadian ketika ini. Memorinya tidak kembali setelah suatu periode waktu yang pendek, ibarat pada amnesia lokal. Individu tersebut benar-benar tidak bisa membentuk memori gres (Townsend, 1998).
Individu dengan amnesia disosiatif seringkali tidak menyadari (atau hanya sebagian sadar) permasalahan memori mereka. Kebanyakan, terkhusus mereka yang mengalami amnesia terlokalisasi, meminimalisir kepentingan dari kehilangan memori mereka dan sanggup menjadi tidak nyaman ketika diarahkan untuk mengingat memori tersebut. 
Dalam amnesia tersistematis, individu kehilangan memori untuk kategori info yang spesifik (semua ingatan perihal keluarga, orang penting, pemerkosaan masa kecil). Dalam amnesia berkesinambungan, individu melupakan tiap insiden yang terjadi (Townsend, 1998).

3. Fugue disosiatif atau Fuga Psikogenik

Pengertian gangguan fugue disosiatif atau fuga Psikogenik yaitu Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri, fugue sama dengan amnesia ”dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative, individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau pekerjaanya), mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaanya serta mempunyai identitas yang gres (parsial atau total) (APA, 1994). Namun mereka bisa membentuk kekerabatan sosial yang baik dengan lingkungan yang baru. 
Fugue, ibarat amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000 di antara populasi umum (APA, 1994). Setelah pulih, tidak ada ingatan sama sekali terhadap kejadian-kejadian yang terjadi selama fuga (fugue). Prosesnya secara singkat-beberapa jam hingga beberapa hari dan jarang hingga beberapa bulan. Kekambuhan jarang terjadi (Townsend, 1998). 
Gangguan ini muncul sehabis individu mengalami stress atau konflik yang berat, contohnya pertengkaran rumah tangga, mengalami penolakan, kesulitan dalam pekerjaan dan keuangan, perang atau tragedi alam. Perilaku seseorang pasien dengan fugue disosiatif yaitu lebih bertujuan dan terintegrasi dengan amnesianya dibandingkan pasien dengan amnesia disosiatif
Pasien dengan fugue disosiatif telah berjalan jalan secara fisik dari rumah dan situasi kerjanya dan tidak sanggup mengingat aspek penting identitas mereka sebelumnya (nama,keluarga, pekerjaan). Pasien tersebut seringkali, tetapi tidak selalu, mengambil identitas dan pekerjaan yang sepenuhnya baru, walaupun identitas gres biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian ganda yang terlihat pada gangguan identitas disosiatif (Tomb, 2004)
Penyebab dissociative fugue serupa kepada dissociative amnesia. Dissociative fugue sering disalaharti sebagai malingering, alasannya kedua kondisi bisa terjadi dibawah keadaan bahwa seseorang mungkin tidak bisa memahami cita-cita untuk menghindar. 
Kebanyakan fugue tampak melambangkan pemenuhan cita-cita yang disembunyikan (misal, lari dari tekanan yang berlebihan, ibarat perceraian atau kegagalan keuangan). Fugues lainnya bekerjasama dengan perasaan ditolak atau dipisahkan atau mereka bisa melindungi orang tersebut dari bunuh diri atau impul pembunuhan. 
Ketika dissociative fugue berulang labih dari beberapa waktu, orang tersebut biasanya mempunyai gangguan identitas dissociative yang mendasari. Fugue bisa berlangsung dari hitungan jam hingga mingguan, atau kadangkala bahkan lebih usang (Tomb, 2004)

4. Gangguan Depersonalisasi

Karena sudah terlalu panjang dan tidak muat lagi di halaman ini maka, kelanjutan Makalah Gangguan Disosiatif akan dilanjutkan kehalaman selanjutnya, Silahkan Lihat pembahasan nya melalui Tautan Berikut ini : Gangguan Depersonalisasi . Disana akan di bahas lebih lanjut mengenai  jenis gangguan depersonalisasi dan beberapa jenis gangguan lainnya beserta cara penangan gangguan disosiatif. Daftar pustaka serta beberapa sumber kutipan atau rujukan dari pembuatan makalah kesehatan gangguan disosiatif ini juga ada di selesai pembahasan selanjutnya. Terima kasih dan semoga bermanfaat untuk semuanya.