3 Jenis Dan Cara Mengatasi Sleep Paralysis (Tindihan)

Bayangkan jika anda sedang tidur nyenyak kemudian tiba-tiba terbangun dan anda tidak sanggup menggerakkan tubuh. Kedengarannya menakutkan. Tapi itu sebuah pengalaman yang dialami banyak orang.

Bayangkan jika anda sedang tidur nyenyak kemudian datang 3 Jenis dan Cara Mengatasi Sleep Paralysis (Tindihan)
Fenomena asing ini dikenal sebagai tindihan atau Sleep Paralysis di mana seorang tidak sanggup bergerak, berbicara atau bereaksi untuk sesaat ketika tidur atau bangun. Ini ialah keadaan transisi antara terjaga dan tidur, yang sering disertai dengan halusinasi.

Halusinasi ini umumnya digambarkan menyerupai kehadiran seseorang di kamar atau seseorang duduk di dada anda dan sanggup menciptakan sulit bagi anda untuk bernapas.

Sleep Paralysis sesungguhnya umum terjadi, berdasarkan sebuah ulasan sistematis yang diterbitkan dalam Sleep Medicine tahun 2011. Ulasan ini menganalisis 35 studi yang melaporkan tingkat sleep paralysis seumur hidup tidur lebih dari 36.000 peserta.

Para peneliti menemukan bahwa 28,3 persen orang yang mengalami dilema psikologis tertentu, menyerupai orang yang mempunyai teladan tidur terganggu cenderung menderita tindihan. Di antara orang yang menderita gangguan mental, menyerupai kecemasan dan depresi, 31,9 persen pernah mengalami sleep paralysis.

Kapankah Sleep Paralysis Terjadi?

Biasanya, sleep paralysis terjadi dua kali selama siklus tidur. Ketika anda tertidur, dan mengalami hal tersebut, maka fase tersebut dinamakan sleep paralysis hypnagogic atau predormital. Ketika anda tertidur, badan perlahan-lahan rileks dan anda akan merasa tidak sanggup bergerak atau berbicara.

Namun fase sleep paralysis yang terjadi ketika anda berdiri dikenal sebagai hypnopompic atau sleep analysis postdormital. Selama tidur, secara bergantian badan anda ada di fase antara REM (rapid eye movement) dan NREM (non rapid eye movement).

Pada tamat NREM, anda bergeser tidur ke REM, di mana mata bergerak cepat tapi seluruh badan anda tetap sangat santai. REM ialah kepingan terdalam dari siklus tidur anda ketika otak masih terjaga.

Pada ketika ini, otot-otot badan intinya dimatikan sehingga anda tidak sanggup bergerak sesuai dengan keinginan. Jika anda berdiri sebelum siklus REM selesai, anda menjadi sepenuhnya sadar tapi badan anda masih dalam modus tidur REM sehingga menciptakan anda tidak sanggup bergerak.

Apa Saja Jenis Halusinasi yang Terjadi di Sleep Paralysis?

Tiga jenis halusinasi sanggup terjadi selama sleep paralysis, berdasarkan sebuah studi tahun 1999 yang diterbitkan dalam Conciousness and Cognition.

  1. Incubus: Pada tipe ini, orang merasa tekanan besar lengan berkuasa di dada mereka dan merasa tidak sanggup bernapas. Di sini, badan masih dalam modus pernapasan REM.
  2. Intruder: Di sini, orang mengalami perasaan kehadiran, rasa takut, dan halusinasi visual dan auditori. 
  3. Unusual bodily experiences: Pada tipe ini, orang mempunyai pengalaman out-of-body menyerupai terbang atau mengambang. Di sini, banyak sekali wilayah otak yang aktif pada ketika orang tersebut terbangun.

Siapa Saja yang Bisa Mengalami Sleep Paralysis?

Menurut American Academy of Sleep Medicine, orang mengalami sleep paralysis untuk pertama kalinya antara usia 14 dan 17. Kondisi ini sanggup dialami laki-laki dan perempuan dari semua kelompok umur dan diperkirakan terjadi di antara 5 sampai 40 persen orang.

Selain itu, sebuah studi 2015 yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research mencatat bahwa sleep paralysis ini sanggup diturunkan. Namun, penelitian lebih lanjut masih diharapkan untuk kesimpulan yang pasti.

Penyebab Tindihan atau Sleep Paralysis:

  1. Tidur yang tidak tepat.
  2. Perubahan jadwal tidur.
  3. Masalah mental, menyerupai kecemasan, stres tinggi atau gangguan bipolar.
  4. Predisposisi genetik.
  5. Masalah tidur, menyerupai narkolepsi atau kram kaki di malam hari.
  6. Penggunaan obat tertentu.
  7. Penyalahgunaan zat tertentu.

Bisakah Sleep Paralysisi Dicegah atau Diobati?

Sulit untuk mengobati atau mencegah sleep paralysis, menyerupai yang terkait dengan faktor keturunan dan terkait dengan sejumlah dilema kesehatan lainnya. Namun, ada banyak hal yang sanggup anda lakukan untuk mencegah dilema ini.

  1. Cobalah untuk mengurangi dan mengelola stres.
  2. Berolahraga secara teratur, tetapi tidak sebelum tidur.
  3. Istirahat yang cukup dan menjaga jadwal tidur yang teratur.
  4. Tidak pernah minum obat tanpa konsultasi dokter.
  5. Jika anda mempunyai gangguan mental, menyerupai kecemasan atau depresi, minum obat yang diresepkan oleh dokter secara teratur.
  6. Hindari tidur terlentang. Cobalah untuk tidur miring untuk mengurangi terjadinya sleep paralysis.


(mw/kr)